Oleh: Difa, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mulai direncanakan awal 2025 dan mulai diterapkan pada tahun ajaran baru Juli 2025. Sebagaimana yang diberitakan laman kemenag.go.id, (26/2/2025), menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, KBC menekankan empat aspek utama yaitu, membangun cinta kepada Tuhan (hablum minallah), membangun cinta kepada sesama manusia, apa pun agamanya, membentuk kepedulian terhadap lingkungan (hablum bi’ah) dan kecintaan terhadap bangsa (hubbul wathan)
Untuk pelaksanaan KBC ini, telah diterbitkan buku panduan NOMOR 6077 TAHUN 2025 berjumlah 91 halaman. Dalam panduan tersebut terdapat kesimpulan, “Salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter ini adalah mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai cinta, baik sesama umat beragama atau antarumat beragama dalam kehidupan sosial yang lebih luas.” Dalam buku panduan tersebut terdapat rancangan belajar implementasi KBC (Pengalaman Baik di RA, MI, MTs, dan MA/MAK) kegiatannya adalah mengenal pertumbuhan pisang, mengenal berbagai macam pisang hingga membuka toko buah sampai membuat olahan pisang.
Kebijakan ini pun mengundang berbagai reaksi masyarakat. Salah satunya dari pengamat pendidikan Linda Ariyanti. Menurutnya, KBC menunjukkan adanya upaya menanamkan ide pluralisme yang menganggap semua agama benar yang sejalan dengan konsep moderasi beragama yang diaruskan di perguruan tinggi terutama di kampus keagamaan (UIN). Oleh karena itu, menurut Ariyanti, wajar jika peluncuran kurikulum cinta mendapat dukungan penuh dari kampus keagamaan. Padahal, konsep moderasi beragama ini justru lahir dari Barat dan jauh dari pemahaman Islam yang sahih (MNews, 31/7/2025).
KBC Mutlak Merusak Akidah Islam
Jika dianalisis lebh lanjut, implementasi KBC akan menimbulkan kerusakan akidah Islam yaitu paham pluralisme agama, nasionalisme dan menjauhkan umat dari Islam kaffah. Pluralisme agama adalah sebuah pemahaman yang diyakini oleh orang-orang liberal, yakni menempatkan kebenaran agama sebagai aspek yang relatif. Pluralisme didasarkan pada asumsi yang meletakkan agama pada sebuah klaim kebenaran yang sifatnya relatif, menempatkan agama-agama pada posisi setara, apa pun jenis agamanya.
Padahal Allah telah menjelaskan secara gamblang dalam firman-Nya,“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi ” (QS Ali Imran [3]: 85).
Menurut Imam Ibnu Katsir, ini sebagai berita dari Allah SWT yang menyatakan, tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam.
Allah SWT juga dengan tegas mengatakan, hanya Islam satu-satunya agama yang Allah ridai. Firman-Nya, “Pada hari ini telah Aku menyempurnakan agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu , dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu…” (QS al-Maidah [5]: 3).
“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam” (QS Ali ‘Imran [3]: 19).
KBC juga menanamkan sikap nasionalisme yaitu hanya cinta kepada budaya dan bangsanya sendiri. Sehingga tidak memikirkan Muslim di belahan bumi lainnya yang terzalimi. Ini sudah jelas bertentangan dengan Islam yang mengajarkan di mana pun umat Islam berada bagaikan satu tubuh. “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi, bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan ikut merasakan sakitnya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam” (HR Muslim).
Bahaya yang sangat merusak akidah yaitu menjauhkan umat dari Islam kaffah. Daalam panduan KBC juga tidak terdapat pembelajaran mengenai pentingnya mempelajari Islam keseluruhan. Di sana hanya memfokuskan kepada toleransi beragama, cinta lingkungan dan manusia. Padahal Allah SWT sudah memerintahkan dalam Al Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (TQS al Baqarah [2]: 208).
Padahal, Islam kaffah wajib dipelajari umat karena kita hidup mulai dari bangun tidur hingga bangun negara harus berlandaskan syariat Islam.
Kurikulum Pendidikan Islam
Dalam sistem Islam, ketika menyusun kurikulum dan bahan pembelajaran terdapat dua tujuan pokok pendidikan yang mesti diperhatikan, yaitu membangun kepribadian islami dan mempersiapkan anak-anak kaum Muslim agar di antara mereka menjadi ulama-ulama.
Adapun poin-poin penting dalam menyusun kurikulum pendidikan Islam yakni: Pertama, penerapan Islam secara kaffah. Kurikulum ini berupaya mengintegrasikan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Kedua, sumber utama. Al-Qur’an dan Sunnah menjadi dasar utama dalam penyusunan kurikulum, memastikan seluruh ajaran dan nilai-nilai Islam terjaga.
Ketiga, pembentukan syakhshiyah Islamiyah. Tujuan utama pendidikan adalah membentuk individu yang memiliki kepribadian Islami yang kuat, berakhlak mulia, dan mampu berdakwah serta membawa perubahan positif. Keempat, pemisahan antara ilmu syar’i dan ilmu ‘aqli. Syekh Taqiyuddin membedakan antara ilmu-ilmu syar’i (yang bersumber dari wahyu) dan ilmu-ilmu ‘aqli (yang diperoleh melalui akal dan pengalaman), namun keduanya harus saling melengkapi dan tidak boleh bertentangan.
Kelima, penguasaan Bahasa Arab. Bahasa Arab dianggap penting karena merupakan bahasa Al-Qur’an dan Sunnah, serta bahasa yang digunakan dalam literatur Islam. Keenam, pendidikan berbasis aqidah. Aqidah (keyakinan) Islam menjadi dasar utama dalam seluruh proses pendidikan, membentuk cara pandang dan cara berpikir yang Islami. Ketujuh, pendidikan yang berorientasi pada perubahan. Pendidikan tidak hanya bertujuan transfer ilmu, tapi juga membentuk individu yang mampu membawa perubahan positif dalam masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Penerapan poin-poin tersebut hanya bisa dilaksanakan jika adanya pemimpin yang menerapkan syariat Islam atau biasa disebut Daulah Islam. Karena sudah terbukti 13 abad lamanya sistem kehidupan Islam diterapkan dan melahirkan generasi emas sesungguhnya yaitu para sahabat, ulama dan ilmuan.[]



