Mengenal Budidaya Kopi Andalan Kabupaten Bogor

Budidaya kopi Robusta di Bogor berkembang sejak para transmigran Bogor yang bekerja di perkebunan kopi Lampung sejak tahun 1950-an kembali ke tanah kelahirannya

DEPOKPOS – Kopi merupakan salah satu komoditas andalan sektor perkebunan yang merupakan penghasil devisa negara, sumber pendapatan petani, penghasil bahan baku industri, dan penyedia lapangan kerja. Selain itu, kopi mempunyai multifungsi, diantaranya fungsi produksi, fungsi konservasi hidrologi yang ramah lingkungan, serta fungsi sosial.

Kabupaten Bogor menjadikan kopi sebagai salah satu komoditas unggulannya. Kabupaten Bogor menyumbang 40 persen dari total produksi Kopi Robusta di Jawa Barat, data ini diperoleh dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.

Sentra produksi Kopi Robusta di Kabupaten Bogor meliputi Kecamatan Sukamakmur, Tanjungsari, Cariu, Babakan Madang, Pamijahan, dan Megamendung. Sebagian besar jenis kopi yang dibudidayakan di Kabupaten Bogor merupakan kopi rakyat dengan jenis kopi yang dikembangkan adalah Kopi Robusta dan Arabica.

Volume produksi kopi Robusta di Kabupaten Bogor pada tahun 2021 menempati peringkat pertama di Jawa Barat, dan urutan keempat di Indonesia. Jumlah produksi kopi Robusta dari tahun ke tahun meningkat.

Di tahun 2019 produksi kopi mencapai 3.667 ton, sementara pada tahun 2020 mencapai 4.004 ton dalam setahun. Menurut Bupati Bogor, Ade Yasin, target produksi kopi Robusta di Kabupaten Bogor telah diproyeksikan hingga tahun 2023 yaitu sebanyak 3.726 ton per tahun.

Budidaya kopi Robusta di Bogor berkembang sejak para transmigran Bogor yang bekerja di perkebunan kopi Lampung sejak tahun 1950-an kembali ke tanah kelahirannya. Para transmigran membawa bibit kopi Robusta dari perkebunan tempat mereka bekerja.

Petani lokal di Bogor menyebut biji kopi yang dibawanya itu Jarian, artinya “asal”. Budaya teknis pemeliharaan perkebunan kopi dan pabrik kopi diperoleh para transmigran saat bekerja di perkebunan Lampung dan dilatihkan perkebunan setelah mereka kembali ke Bogor. Gelombang transmigran Bogor dari perkebunan Lampung yang kembali ke tanah mereka berlanjut hingga tahun 1990-an.

Kabupaten Bogor telah menjadi sentra kopi sejak zaman Belanda. Salah satunya adalah Kecamatan Sukamakmur, yang masih menyisakan pohon kopi robusta dengan batang sebesar paha pria dewasa. Robusta Coffea canephora dominan di lahan berketinggian  400-800 mdpl.

Kabupaten Bogor memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kopi. Terdapat 6.089 ha perkebunan kopi Robusta rakyat, dengan jumlah petani kopi mencapai 28.935 orang dan produksi pada 2021 sebesar 4.150 ton.

Menurut  data statistik perkebunan kopi DISTANHORBUN Kabupaten Bogor pada tahun 2018 , Kabupaten Bogor memiliki perkebunan kopi Robusta rakyat terluas di Jawa Barat, yaitu 5.672,84 ha dengan produktivitas 961,82 kg biji kopi/ha dan jumlah petani 12.802 KK yang tersebar di 28 kecamatan.

Nilai produktivitas tersebut lebih tinggi dibandingkan kg biji kopi/ha (BPS, 2018) rerata produktivitas kopi nasional sebesar 775 kg biji kopi/ha. Dengan potensi produksi yang besar tersebut, maka Kabupaten Bogor berpeluang untuk menyuplai kopi Robusta dalam maupun luar negeri.

Tanaman kopi memerlukan pemeliharaan yang optimal diantaranya melalui pemberian pupuk untuk mendapatkan nutrisi atau unsur hara dalam tanah, menjaga sanitasi kebun, dan mencegah serangan hama dan penyakit. Kualitas kopi yang dihasilkan dipengaruhi oleh proses budidaya dan penanganan pasca panen yang sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

Kopi robusta sebaiknya ditanam pada ketinggian 100-600 mdpl dengan suhu udara 21-24 derajat celcius. Syarat tanah sebagai media tanam kopi robusta ini adalah yang memiliki kemiringan kurang dari 30%, kedalaman tanah lebih dari 100 cm, yang merupakan tanah lempung pada lapisan kedua dan gembur pada permukaan atasnya.

Selain memiliki sifat gembur, tanah lapisan atas juga perlu memiliki sifat kimia dengan ketentuan kadar kandungan bahan organik kurang dari 3.5%, kadar C organik harus lebih dari 2%, nisbah C/N sebaiknya 10-12, kapasitas pertukaran kation harus lebih dari 15 me/100 gram tanah, derajat kejenuhan basa harus lebih dari 35%, pH tanah minimal 5.5 dan maksimal 6.5, kandungan unsur hara makro (N,P,K) unsur hara mikro harus tinggi.

Cara menanam kopi robusta yang tepat agar dapat cepat menghasilkan buah yang lebat adalah persiapan lahan yang dilakukan 8 bulan sebelum proses penanaman, tanam pohon penaung minimal 8 bulan sebelum kopi ditanam dengan arah Utara-Selatan dan jarak tanam disesuaikan dengan jarak tanam kopi yang dipilih. Naungan sementara dapat berupa Tephrosia sp, Moghania macrophyla atau Crotalaria sp.

Selanjutnya adalah pembuatan lubang tanam yaitu paling lambat 3-6 bulan sebelum kopi ditanam, berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm untuk lahan gembur, atau 80 cm x 80 cm x 80 cm untuk lahan berstruktur keras. Pupuk kandang 10-15 kg per lubang diberikan 2-4 minggu sebelum tanam, lubang ditutup dengan tanah dan dipasang ajir. Proses pembibitan dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif.

Bibit kopi yang akan ditanam berumur 5-12 bulan, sebagian daunnya dikupir, ditanam di tempat lubang tanam. Saat menanam akar bibit diusahakan menyebar merata. Lubang tanam ditutup tanah sampai cembung. Setelah 2 minggu ditanam lakukanlah sulam.

Kemudian pada saat tanaman berusia 4 bulan lakukanlah penggemburan tanah dengan cara membersihkan rumput di bawah tajuk, menggali tanah melingkar sedalam 30-40 cm.  Rumput dan bahan organik lain dimasukkan ke dalam galian, kemudian lubang galian ditutup kembali dengan tanah galian.

Tahap selanjutnya adalah pemupukan, pemupukan dilakukan dengan alur melingkari pohon sedalam 2-5 cm, jarak 30-40 cm dari batang. Pupuk diberikan 2 kali pada awal dan akhir musim hujan, dengan cara menabur ke dalam alur kemudian ditutup tanah.

Yang terakhir adalah pemangkasan, pemangkasan dilakukan pada tanaman kopi yang masih muda dengan tujuan untuk membentuk kerangka tanaman yang kuat dan seimbang. Pemangkasan ini akan memudahkan dalam perawatan dan juga proses pemanenan tanaman kopi.

Kedepannya diharapkan kopi dari Kabupaten Bogor ini dapat lebih berkembang dan dikenal lebih banyak orang, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Adilla Nur Silmi
Mahasiswi Jurusan Agribisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Pos terkait