Oleh: Murodi al-Batawi.
Setiap bulan Rabiul Awal tiba, pesantren-pesantren di seluruh Nusantara berdenyut dengan semangat istimewa. Itulah saatnya tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW dihidupkan dengan segala kekhasannya. Lebih dari sekadar peringatan tahunan, Maulid di pesantren adalah cerminan bagaimana cinta kepada Rasulullah diterjemahkan ke dalam budaya yang hidup, mengakar, dan terus berkembang dari generasi ke generasi.
Pesantren memiliki posisi sentral dalam melestarikan tradisi Maulid di Indonesia. Di Pondok Pesantren Sunan Ampel, misalnya, peringatan Maulid digelar selama sepuluh hari berturut-turut—mulai tanggal satu hingga sepuluh Rabiul Awal. Ini bukan sekadar ritual, melainkan sebuah prosesi panjang yang sarat makna: pembacaan shalawat, doa pembuka, pembacaan dan pemaknaan kitab Barzanji, hingga puncaknya pembacaan Maulid Simtudduror. Dalam setiap rangkaian itu, terhampar pesan dakwah tentang akidah, syariah, dan akhlak yang diserap para santri.
Kitab Barzanji: Denyut Jantung Maulid Pesantren
Jika ada satu tradisi yang paling identik dengan Maulid di pesantren,adalah pembacaan kitab Al-Barzanji. Kitab karya Sayyid Ja’far al-Barzanji ini berisi syair dan prosa yang menuturkan biografi Nabi—nasab, kehidupan, hingga kemuliaan akhlaknya. Lantunannya yang merdu, dibaca secara beramai-ramai, menciptakan suasana spiritual yang mendalam.
Di Ponpes al-Masyhad, Cijurai, tradisi Berzanji ini bukan hanya digelar di lingkungan pesantren, tetapi juga bersama warga desa sekitar. Bahkan, tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbud sejak 2021. Ini menunjukkan bahwa tradisi pesantren telah menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional.
Tidak hanya itu, penelitian menunjukkan bahwa pembacaan Barzanji di pesantren memiliki peran penting: sebagai media untuk mengimitasi dan menauladani akhlak serta sifat-sifat Nabi—shiddiq, amanah, tabligh, fathonah. Dengan mendengar dan menghayati kisah hidup Nabi, santri tidak sekadar mengenal, tetapi juga terdorong untuk meneladani. Dampaknya terasa dalam kehidupan santri: tumbuh rasa cinta kepada Nabi, berkurangnya gelisah, dan ketenangan hati.
Tradisi Lokal yang Memperkaya Semangat Maulid
Kekayaan tradisi Maulid di pesantren juga tercermin dari beragamnya ekspresi budaya lokal yang menyertainya. Di Banten misalnya, tradisi arak-arakan santri yang telah khatam Al-Qur’an dengan menaiki kuda jingkrak menjadi pemandangan khas setiap bulan Maulid. Diiringi lantunan rebana dan musik tradisional kencreng, prosesi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus kebanggaan masyarakat terhadap santri yang berhasil menuntaskan 30 juz Al-Qur’an. Tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun ini memperkuat nuansa religius sekaligus menjadi hiburan rakyat yang mempererat hubungan pesantren dengan masyarakat.
Di tempat lain, seperti di Ponpes Al-‘Atiqiyah, Sukabumi, ratusan bahkan ribuan jamaah hadir dalam peringatan Maulid yang diisi ceramah agama. Pejabat setempat yang hadir menyatakan bahwa peringatan Maulid sudah menjadi tradisi warga, dan ia berharap ajaran Nabi selalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Seremoni Menuju Keteladanan
Peringatan Maulid di pesantren bukanlah akhir dari segalanya. KH. Dr. Mudrik Kori Indra, MA, mengatakan dalam perayaan Maulid di Ponpes al-Ittifaqiyah, menegaskan bahwa Maulid bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat keimanan dan memperdalam nilai-nilai keteladanan Rasulullah. “Kita semua dituntut meneladani kejujuran beliau dalam berdagang, amanah dalam kepemimpinan, dan kasih sayang kepada sesama,” ujarnya. Ia juga menyoroti peran strategis pesantren dalam menjaga keutuhan moral dan membentuk karakter generasi muda sebagai calon pemimpin dan ulama masa depan.
Pesan yang sama disampaikan KH. Dr. Dedy Suaedy, di Ponpes al-Firdausi, peringatan Maulid harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas iman dan akhlak, mengikuti Nabi sebagai rahmat bagi alam semesta.
Maulid, Pesantren, dan Masa Depan Bangsa
Di tengah arus modernisasi dan tantangan moral yang kian kompleks, pesantren melalui tradisi Maulid mengajarkan bahwa cinta kepada Nabi bukanlah sekadar pujian di atas mimbar, tetapi diwujudkan dalam budaya yang hidup, dalam aksi nyata untuk kemaslahatan umat. Pembacaan Barzanji mengingatkan pada akhlak mulia. Arak-arakan khataman Al-Qur’an menunjukkan penghargaan terhadap ilmu. Kebersamaan dalam perayaan mengikat ukhuwah antar-santri dan masyarakat.
Dari pesantren, tradisi Maulid terus bergema—mengingatkan bahwa meneladani Rasulullah adalah tanggung jawab yang harus diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi.
Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat (odie).


