Oleh: Dr. Andri Yudhi Supriadi, SE, ME
Sering kita dengar komentar, “Kok katanya ekonomi tumbuh, tapi hidup makin susah?” atau “BPS bilang kemiskinan turun, tapi saya lihat masih banyak orang susah di sekitar kita.”
Kritik-kritik semacam ini wajar muncul. Namun, seringkali masalahnya bukan pada datanya, melainkan bagaimana kita memahami proses di balik angka tersebut.
Dari Mana Data BPS Berasal?
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumpulkan data dari berbagai sumber:
• Survei dan sensus seperti Sensus Penduduk, Susenas, dan Sakernas.
• Data administrasi dari kementerian/lembaga, misalnya catatan kependudukan, kesehatan, atau pendidikan.
• Big data yang mulai dipakai, misalnya data harga dari marketplace atau mobilitas dari aplikasi digital.
Jadi, angka yang dirilis bukan hasil tebak-tebakan, tapi melalui proses panjang dan sumber yang beragam.
Survei: Bukan Asal Tanya
Dalam survei, ada dua pihak yang sangat penting: petugas lapangan (interviewer) dan responden.
• Petugas lapangan BPS tidak sembarangan dipilih. Mereka direkrut dan dilatih khusus sesuai standar operasi (SOP). Mereka belajar teknik wawancara, memahami kuesioner, hingga etika dalam menjaga kerahasiaan data.
• Responden dipilih secara acak berdasarkan metodologi ilmiah. Tujuannya supaya jawaban segelintir orang bisa mewakili jutaan penduduk.
Masalah muncul kalau responden menolak atau menjawab setengah hati. Banyak yang khawatir soal privasi.
Padahal, dalam Undang-Undang Statistik dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UUDP), sudah jelas: data pribadi dilindungi, dan kegiatan statistik mendapat pengecualian demi kepentingan publik.
Artinya, jawaban responden tidak akan pernah ditampilkan per orang, melainkan hanya dalam bentuk agregat.
Kalau banyak responden enggan memberi data, wajar bila indikator yang dihasilkan kurang maksimal.
Mengapa “Rasa” Kita Bisa Berbeda dengan Angka?
Ada beberapa alasan mengapa data BPS terasa tidak sesuai dengan pengalaman sehari-hari:
1. Statistik berbicara rata-rata, bukan individu. Bisa jadi secara rata-rata kemiskinan menurun, tetapi di lingkungan tertentu masih terasa berat.
2. Soal waktu. Data dipublikasikan per periode tertentu, sementara kondisi di lapangan bisa berubah lebih cepat.
3. Indikator terbatas. Tidak semua hal bisa ditangkap dengan angka. Misalnya, rasa nyaman, beban psikologis, atau harapan masa depan, itu sulit diukur statistik.
Jadi, tidak berarti data BPS salah. Hanya saja, perlu kemampuan membaca dan menafsirkannya dengan benar.
Semua Pihak Punya Peran
Agar data lebih bermakna, semua pihak harus ikut terlibat:
• Responden mau bekerja sama dengan jujur.
• Petugas bekerja profesional dan menjaga integritas.
• Media membantu menjelaskan data agar tidak salah dipahami.
• Pemerintah memakai data sebagai dasar kebijakan, bukan sekadar formalitas.
• Masyarakat memahami bahwa angka statistik adalah potret besar, bukan cermin pribadi.
Sebagai penutup, BPS sudah bekerja dengan standar internasional dan metode ilmiah. Namun kualitas data tetap sangat dipengaruhi kerja sama kita semua.
Jadi, alih-alih meragukan angka, lebih baik kita tingkatkan literasi statistik. Dengan begitu, data bukan hanya deretan angka, tetapi dasar kebijakan yang bisa membuat hidup masyarakat lebih baik.