<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BPS Arsip - FWJI News</title>
	<atom:link href="https://fwjinews.com/tag/bps/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://fwjinews.com/tag/bps/</link>
	<description>Forum Wartawan Jaya Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Nov 2025 11:51:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.3</generator>

<image>
	<url>https://fwjinews.com/go/wp-content/uploads/2025/08/cropped-fwji-32x32.png</url>
	<title>BPS Arsip - FWJI News</title>
	<link>https://fwjinews.com/tag/bps/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sensus Ekonomi 2026: Saatnya Pelaku Usaha Berperan Dalam Menyusun Masa Depan Bisnis Berbasis Data</title>
		<link>https://fwjinews.com/sensus-ekonomi-2026-saatnya-pelaku-usaha-berperan-dalam-menyusun-masa-depan-bisnis-berbasis-data/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2025 11:49:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[BPS]]></category>
		<category><![CDATA[Data]]></category>
		<category><![CDATA[Sensus Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Statistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fwjinews.com/?p=91951</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr. Andri Yudhi Supriadi, SE, ME, Warga Depok</p>
<p>Artikel <a href="https://fwjinews.com/sensus-ekonomi-2026-saatnya-pelaku-usaha-berperan-dalam-menyusun-masa-depan-bisnis-berbasis-data/">Sensus Ekonomi 2026: Saatnya Pelaku Usaha Berperan Dalam Menyusun Masa Depan Bisnis Berbasis Data</a> pertama kali tampil pada <a href="https://fwjinews.com">FWJI News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Dr. Andri Yudhi Supriadi, SE, ME, Warga <a href="https://www.depokpos.com">Depok</a></strong></em></p>
<p>Bayangkan menjalankan usaha tanpa tahu berapa banyak pesaing, sektor yang tumbuh cepat, atau wilayah yang menjanjikan untuk ekspansi. Keputusan hanya berdasar insting, bukan data. Di dunia bisnis yang dinamis, keputusan tanpa data ibarat berlayar tanpa kompas.</p>
<p>Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang disiapkan Badan Pusat Statistik (BPS) sangat penting, bukan hanya bagi pemerintah tetapi juga untuk seluruh pelaku usaha, mulai dari pedagang kaki lima hingga korporasi besar. Dari Mei hingga Juli 2026, petugas BPS akan mengunjungi unit usaha secara langsung untuk wawancara atau pengisian kuesioner digital guna mempercepat dan menjaga kualitas data.</p>
<p>Sensus ini akan mendata seluruh kegiatan ekonomi non-pertanian di Indonesia—mulai dari struktur dan karakteristik usaha hingga transformasi digital dan lingkungan bisnis. Pelaku usaha cukup menyiapkan data dasar seperti jenis usaha, jumlah tenaga kerja, estimasi pendapatan, penggunaan teknologi digital, serta tantangan dan prospek usaha ke depan. Semua data dijamin kerahasiaannya sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik dan hanya disajikan dalam bentuk agregat.</p>
<h3>Dari Data Menjadi Daya Saing</h3>
<p>Banyak pelaku usaha masih melihat sensus sebagai kegiatan pemerintah semata. Padahal, hasil SE2026 dapat menjadi sumber informasi strategis untuk peta pasar, posisi usaha di tengah kompetisi, dan peluang investasi baru.</p>
<p>Data jumlah dan skala usaha di setiap wilayah membantu mengetahui tingkat persaingan dan potensi pasar. Apakah daerah tertentu sudah jenuh atau masih terbuka peluang untuk usaha baru? Informasi ini memungkinkan pengusaha mengambil keputusan ekspansi dengan risiko lebih terukur.</p>
<p>Selain itu, data juga memuat profil digitalisasi usaha—mulai dari penggunaan teknologi informasi, e-commerce, hingga inovasi ramah lingkungan. Ini menjadi bahan refleksi bagi pengusaha: apakah usaha sudah cukup digital dan kompetitif secara daring? Perbandingan dengan data nasional membantu pelaku usaha menilai daya saing dan menentukan langkah perbaikan.</p>
<h4>Membuka Peluang Investasi dan Kolaborasi</h4>
<p>SE2026 menampilkan gambaran ekonomi daerah secara rinci. Investor dan pelaku industri dapat melihat sektor yang tumbuh pesat di wilayah tertentu, seperti perdagangan digital di kota menengah, industri kreatif di daerah wisata, atau jasa logistik di kawasan industri baru.</p>
<p>Data ini membuka peluang investasi dan kemitraan baru. Usaha kecil dan menengah dapat meyakinkan mitra dan lembaga keuangan mengenai potensi bisnisnya. Korporasi besar dapat menggunakan data sebagai dasar analisis pasar sebelum ekspansi atau merger.</p>
<h5>Data untuk Semua, Bukan Sekadar Angka</h5>
<p>BPS menegaskan bahwa data sensus akan dijaga kerahasiaannya dan disajikan secara agregat, bukan data per individu. Tujuannya bukan untuk pajak atau pengawasan, melainkan untuk membangun basis data ekonomi nasional yang dapat digunakan bersama oleh pemerintah, akademisi, investor, dan pelaku usaha.</p>
<p>Dengan partisipasi aktif, data yang dihasilkan semakin akurat dan relevan, lalu kembali ke pelaku usaha dalam bentuk informasi pasar yang lebih tepat, perencanaan bisnis yang lebih baik, dan penguatan daya saing.</p>
<p><strong>Saatnya Menjadi Bagian dari Ekosistem Data</strong></p>
<p>Kita sering mendengar istilah &#8220;data is the new oil&#8221;—sumber daya paling berharga di era digital. Namun, data hanya bernilai jika lengkap, akurat, dan digunakan.</p>
<p>SE2026 adalah kesempatan besar bagi pelaku usaha Indonesia untuk menjadi bagian dari ekosistem data nasional yang mendukung ekonomi transparan, efisien, dan kompetitif.</p>
<p>Mengisi sensus bukan sekadar memenuhi kewajiban statistik, tapi juga berinvestasi untuk masa depan usaha sendiri.</p>
<p>Dari data yang dikumpulkan hari ini, lahir keputusan bisnis yang lebih bijak esok hari.</p>
<p>Sensus Ekonomi 2026 bukan hanya menghitung jumlah usaha di Indonesia. Ini adalah upaya kolektif memahami arah dan denyut nadi ekonomi bangsa. Ketika pelaku usaha berpartisipasi dan memanfaatkan hasilnya, data bukan milik lembaga statistik, melainkan milik seluruh pelaku ekonomi yang ingin tumbuh bersama.</p>
<p>Artikel <a href="https://fwjinews.com/sensus-ekonomi-2026-saatnya-pelaku-usaha-berperan-dalam-menyusun-masa-depan-bisnis-berbasis-data/">Sensus Ekonomi 2026: Saatnya Pelaku Usaha Berperan Dalam Menyusun Masa Depan Bisnis Berbasis Data</a> pertama kali tampil pada <a href="https://fwjinews.com">FWJI News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i.ytimg.com/vi/sFiniitqOXc/maxresdefault.jpg" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Angka BPS Tak Selalu Sama dengan “Rasa di Lapangan”?</title>
		<link>https://fwjinews.com/mengapa-angka-bps-tak-selalu-sama-dengan-rasa-di-lapangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Aug 2025 23:46:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Depok]]></category>
		<category><![CDATA[BPS]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90988</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr. Andri Yudhi Supriadi, SE, ME</p>
<p>Artikel <a href="https://fwjinews.com/mengapa-angka-bps-tak-selalu-sama-dengan-rasa-di-lapangan/">Mengapa Angka BPS Tak Selalu Sama dengan “Rasa di Lapangan”?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://fwjinews.com">FWJI News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Dr. Andri Yudhi Supriadi, SE, ME</strong></em></p>
<p>Sering kita dengar komentar, “Kok katanya ekonomi tumbuh, tapi hidup makin susah?” atau “BPS bilang kemiskinan turun, tapi saya lihat masih banyak orang susah di sekitar kita.”</p>
<p>Kritik-kritik semacam ini wajar muncul. Namun, seringkali masalahnya bukan pada datanya, melainkan bagaimana kita memahami proses di balik angka tersebut.</p>
<h3>Dari Mana Data BPS Berasal?</h3>
<p>Badan Pusat Statistik (BPS) mengumpulkan data dari berbagai sumber:</p>
<p>• Survei dan sensus seperti Sensus Penduduk, Susenas, dan Sakernas.</p>
<p>• Data administrasi dari kementerian/lembaga, misalnya catatan kependudukan, kesehatan, atau pendidikan.</p>
<p>• Big data yang mulai dipakai, misalnya data harga dari marketplace atau mobilitas dari aplikasi digital.</p>
<p>Jadi, angka yang dirilis bukan hasil tebak-tebakan, tapi melalui proses panjang dan sumber yang beragam.</p>
<h4>Survei: Bukan Asal Tanya</h4>
<p>Dalam survei, ada dua pihak yang sangat penting: petugas lapangan (interviewer) dan responden.</p>
<p>• Petugas lapangan BPS tidak sembarangan dipilih. Mereka direkrut dan dilatih khusus sesuai standar operasi (SOP). Mereka belajar teknik wawancara, memahami kuesioner, hingga etika dalam menjaga kerahasiaan data.</p>
<p>• Responden dipilih secara acak berdasarkan metodologi ilmiah. Tujuannya supaya jawaban segelintir orang bisa mewakili jutaan penduduk.</p>
<p>Masalah muncul kalau responden menolak atau menjawab setengah hati. Banyak yang khawatir soal privasi.</p>
<p>Padahal, dalam Undang-Undang Statistik dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UUDP), sudah jelas: data pribadi dilindungi, dan kegiatan statistik mendapat pengecualian demi kepentingan publik.</p>
<p>Artinya, jawaban responden tidak akan pernah ditampilkan per orang, melainkan hanya dalam bentuk agregat.</p>
<p>Kalau banyak responden enggan memberi data, wajar bila indikator yang dihasilkan kurang maksimal.</p>
<h5>Mengapa “Rasa” Kita Bisa Berbeda dengan Angka?</h5>
<p>Ada beberapa alasan mengapa data BPS terasa tidak sesuai dengan pengalaman sehari-hari:</p>
<p>1. Statistik berbicara rata-rata, bukan individu. Bisa jadi secara rata-rata kemiskinan menurun, tetapi di lingkungan tertentu masih terasa berat.</p>
<p>2. Soal waktu. Data dipublikasikan per periode tertentu, sementara kondisi di lapangan bisa berubah lebih cepat.</p>
<p>3. Indikator terbatas. Tidak semua hal bisa ditangkap dengan angka. Misalnya, rasa nyaman, beban psikologis, atau harapan masa depan, itu sulit diukur statistik.</p>
<p>Jadi, tidak berarti data BPS salah. Hanya saja, perlu kemampuan membaca dan menafsirkannya dengan benar.</p>
<h4>Semua Pihak Punya Peran</h4>
<p>Agar data lebih bermakna, semua pihak harus ikut terlibat:</p>
<p>• Responden mau bekerja sama dengan jujur.<br />
• Petugas bekerja profesional dan menjaga integritas.<br />
• Media membantu menjelaskan data agar tidak salah dipahami.<br />
• Pemerintah memakai data sebagai dasar kebijakan, bukan sekadar formalitas.<br />
• Masyarakat memahami bahwa angka statistik adalah potret besar, bukan cermin pribadi.</p>
<p>Sebagai penutup, BPS sudah bekerja dengan standar internasional dan metode ilmiah. Namun kualitas data tetap sangat dipengaruhi kerja sama kita semua.</p>
<p>Jadi, alih-alih meragukan angka, lebih baik kita tingkatkan literasi statistik. Dengan begitu, data bukan hanya deretan angka, tetapi dasar kebijakan yang bisa membuat hidup masyarakat lebih baik.</p>
<p>Artikel <a href="https://fwjinews.com/mengapa-angka-bps-tak-selalu-sama-dengan-rasa-di-lapangan/">Mengapa Angka BPS Tak Selalu Sama dengan “Rasa di Lapangan”?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://fwjinews.com">FWJI News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://lokerbumn.com/wp-content/uploads/2022/01/BPS.jpg" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
