<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Air &#8211; FWJI News</title>
	<atom:link href="https://fwjinews.com/tag/air/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://fwjinews.com</link>
	<description>Medianya Orang Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jan 2026 11:23:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://fwjinews.com/go/wp-content/uploads/2026/11/cropped-Screenshot_2026-11-06-10-40-21-00_40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12-32x32.jpg</url>
	<title>Air &#8211; FWJI News</title>
	<link>https://fwjinews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>6 Isu Pencemaran Air yang Masih Diabaikan di Perencanaan Kota</title>
		<link>https://fwjinews.com/6-isu-pencemaran-air-yang-masih-diabaikan-di-perencanaan-kota/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ADMIN]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2026 11:23:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Air]]></category>
		<category><![CDATA[Air Bersih]]></category>
		<category><![CDATA[Pencemaran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=95923</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Zaidan Zidna Fann Air sungai di kota besar semakin sulit dikenali sebagai sumber...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Zaidan Zidna Fann</strong></em></p>
<p>Air sungai di kota besar semakin sulit dikenali sebagai sumber kehidupan. Warna keruh, bau menyengat, dan tumpukan sampah kini dianggap pemandangan biasa. Banyak warga terbiasa hidup berdampingan dengan sungai tercemar. Normalisasi ini berbahaya. Ia menandakan kegagalan perencanaan kota dalam melindungi sumber daya air.</p>
<p>Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan mayoritas sungai di kawasan perkotaan berada pada status tercemar sedang hingga berat. Angka ini bukan sekadar statistik. Ini gambaran nyata dari sistem kota yang belum ramah terhadap air. Pembangunan fisik berjalan cepat, tetapi pengelolaan air tertinggal jauh.</p>
<p>Dalam sudut pandang Teknik Lingkungan, pencemaran air bukan peristiwa tiba tiba. Ia lahir dari keputusan tata ruang, sistem sanitasi, dan kebijakan infrastruktur yang tidak terintegrasi. Kota dibangun untuk manusia, tetapi melupakan air yang menopang kehidupan manusia itu sendiri.</p>
<p>Ada enam isu pencemaran air yang masih sering luput dari perhatian dalam perencanaan kota.</p>
<p><strong>Limbah domestik yang dibiarkan mengalir bebas</strong></p>
<p>Banyak kawasan permukiman belum terhubung ke sistem pengolahan air limbah. Air bekas mandi, cuci, dan dapur langsung masuk ke selokan lalu ke sungai. Limbah ini mengandung bahan organik tinggi yang menurunkan kualitas air. Dampaknya terasa pada meningkatnya biaya pengolahan air minum dan risiko kesehatan masyarakat.</p>
<p><strong>Lemahnya pengawasan limbah industri</strong></p>
<p>Industri di wilayah perkotaan umumnya memiliki izin pembuangan limbah. Namun pengawasan lapangan sering tidak konsisten. Limbah cair tetap masuk badan air dengan kualitas yang meragukan. Sungai kehilangan fungsi ekologisnya. Dalam praktik Teknik Lingkungan, izin tanpa pengawasan rutin tidak pernah cukup.</p>
<p><strong>Drainase kota yang mengabaikan kualitas air</strong></p>
<p>Sistem drainase dirancang untuk mengalirkan air secepat mungkin. Fokus utama hanya pada pencegahan banjir. Saat hujan, limpasan air membawa minyak kendaraan, deterjen, dan sampah langsung ke sungai. Pola ini terjadi berulang setiap musim hujan di banyak kota besar.</p>
<p><strong>Hilangnya ruang resapan akibat pembangunan</strong></p>
<p>Permukaan kota didominasi beton dan aspal. Air hujan tidak meresap ke tanah. Air tercemar langsung mengalir ke badan air. Ruang terbuka hijau terus terdesak oleh pembangunan. Padahal zona resapan berfungsi sebagai penyaring alami yang efektif dan murah.</p>
<p><strong>Sumber pencemar tidak langsung yang diremehkan</strong></p>
<p>Sampah di jalan, oli kendaraan, dan debu terlihat sepele. Namun saat hujan, seluruh pencemar ini terkumpul dan masuk ke sungai. Banyak dokumen perencanaan kota belum memasukkan sumber pencemar tidak langsung sebagai beban pencemaran yang signifikan.</p>
<p><strong>Minimnya keterlibatan masyarakat</strong></p>
<p>Warga jarang dilibatkan dalam perencanaan pengelolaan air kota. Edukasi tentang dampak limbah rumah tangga masih terbatas. Akibatnya perilaku mencemari air terus berulang. Padahal perubahan perilaku dapat menurunkan beban pencemaran secara nyata.</p>
<p>Enam isu ini menunjukkan satu pola yang jelas. Pencemaran air bukan semata persoalan teknis. Ini persoalan prioritas. Kota lebih sibuk membangun yang terlihat. Jalan, gedung, dan kawasan bisnis. Sistem air diletakkan di belakang layar.</p>
<p>Sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan, saya melihat kondisi ini sebagai kegagalan pendekatan pembangunan. Air adalah sistem yang saling terhubung. Ketika satu bagian diabaikan, dampaknya menyebar ke kesehatan masyarakat, biaya ekonomi, dan kerusakan lingkungan.</p>
<p>Perencanaan kota perlu bergeser. Pengolahan limbah domestik harus dipercepat. Pengawasan industri harus berbasis data. Drainase perlu dirancang sebagai pengendali kualitas air. Ruang resapan harus dilindungi. Sumber pencemar tidak langsung harus dihitung. Masyarakat harus dilibatkan sejak awal.</p>
<p>Pencemaran air perkotaan bukan takdir. Ini hasil pilihan kebijakan. Jika perencanaan kota berani menempatkan air sebagai pusat, kualitas hidup warga akan meningkat. Jika tidak, sungai kota akan terus menjadi saluran limbah terbuka. Dampaknya akan terus kita rasakan bersama.</p>
<p>Tentang Penulis: Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan, Akademi Teknik Tirta Wiyata Magelang.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://unair.ac.id/wp-content/uploads/2019/11/Akumulasi-Sampah-Plastik-di-Muara-Sungai-Wonorejo-pada-Dua-Musim-Berbeda.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air Laut Menjadi Bersih dengan Desalinasi</title>
		<link>https://fwjinews.com/air-laut-menjadi-bersih-dengan-desalinasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ADMIN]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2026 04:06:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Air]]></category>
		<category><![CDATA[Air Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Desalinasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=95909</guid>

					<description><![CDATA[Desalinasi adalah proses menghilangkan garam dari air laut untuk menghasilkan air bersih yang aman untuk dikonsumsi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Fajar Akbar Wirautama</strong></em></p>
<p>Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting untuk kehidupan dan keberlangsungan manusia. Namun di era ini yang banyak terjadi pencemaran akibat dari urbanisasi, pertambahan penduduk, dan ketidakpedulian kita terhadap alam.</p>
<p>Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih. Di banyak wilayah, terutama daerah pesisir dan pulau-pulau kecil, masyarakat mulai mengalami kesulitan dalam memperoleh air bersih yang layak.</p>
<p>Kondisi ini mendorong munculnya pertanyaan penting: bisakah air laut menjadi solusi air bersih di masa depan?</p>
<p>Indonesia sebagai negara maritim memiliki lautan yang sangat luas dimana air laut tersedia dengan jumlah yang sangat banyak dan hampir tak terbatas.</p>
<p>Air asin dalam jumlah besar tersebut apabila digunakan sebagai air bersih, Bumi Pertiwi tidak akan pernah merasakan krisis air bersih. Akan tetapi, air asin tidak dapat digunakan secara langsung karena mengandung kadar garam dan mineral terlarut yang tinggi sehingga berbahaya bagi kesehatan.</p>
<p>Oleh karena itu, diperlukan teknologi pengolahan khusus agar air laut dapat diubah menjadi air bersih, salah satunya melalui proses desalinasi.</p>
<p>Desalinasi adalah proses menghilangkan garam dari air laut untuk menghasilkan air bersih yang aman untuk dikonsumsi dan digunakan untuk keperluan rumah tangga, industri atau pertanian.</p>
<p>Dalam proses ini memiliki beberapa metode yang telah dikembangkan antara lain reverse osmosis (RO), distilasi, termal, dan elektrodialisis.</p>
<p>Metode penghilangan garam yang telah dikembangkan memiliki kelebihan dan kekurangan contohnya seperti pada metode termal yang membutuhkan energi besar namun kualitas air yang dihasilkan tinggi.</p>
<p>Di antara metode desalinasi tersebut, reverse osmosis menjadi teknologi yang paling banyak digunakan karena relatif efisien dan mampu menghasilkan air dengan kualitas baik.</p>
<p>Penerapan teknologi penghilangan garam dengan reverse osmosis ini bukan tanpa tantangan, namun metode tersebut telah diterapkan di berbagai negara yang mengalami krisis air, seperti Arab Saudi dan Singapura.</p>
<p>Meskipun memiliki potensi besar, pemanfaatan air laut sebagai sumber air bersih tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah tingginya biaya pembangunan dan operasional instalasi desalinasi.</p>
<p>Selain itu terdapat masalah dalam proses desalinasi yang membutuhkan energi besar, sehingga dapat meningkatkan konsumsi energi dan emisi karbon jika tidak diimbangi dengan sumber energi terbarukan.</p>
<p>Rintangan lainnya adalah limbah air pekat (brine) yang dapat mengganggu ekosistem laut dan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik, selain tantangan tersebut masih ada tantangan sosial, seperti masyarakat yang belum terbiasa dengan air dari proses desalinasi dan juga potensi kenaikan tarif air yang dikelola PDAM.</p>
<p>Dalam konteks lingkungan, tantangan-tantangan tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan inovasi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.</p>
<p>Penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin dalam proses desalinasi dapat menjadi solusi untuk menekan dampak lingkungan.</p>
<p>Selain itu, perencanaan sistem pembuangan limbah desalinasi yang baik dan juga dirancang oleh tenaga ahli sangat diperlukan agar tidak merusak ekosistem laut dan lingkungan sekitar.</p>
<p>Penting untuk memahami bahwa solusi krisis air tidak hanya bergantung pada satu sumber air saja. Pemanfaatan air laut harus diiringi dengan upaya konservasi air, pengelolaan sumber daya air yang bijak.</p>
<p>Dengan demikian, air laut memang menjanjikan sebagai solusi air bersih di masa kini maupun masa depan melalui teknologi desalinasi.</p>
<p>Namun, pemanfaatannya harus dilakukan secara bijak dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, energi, dan lingkungan.</p>
<p>Peran pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku industri sangat penting dalam memastikan bahwa pemanfaatan air laut sebagai sumber air bersih dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.</p>
<p>Dengan pendekatan yang terpadu, air laut dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam memenuhi kebutuhan air bersih di masa depan.</p>
<p><em>Identitas Penulis</em><br />
<em>Mahasiswa aktif semester 1 program Diploma III Teknik Lingkungan Akademi Teknik Tirta Wiyata Magelang.</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://beta.co.id/hs-fs/hubfs/Imported_Blog_Media/proses-reverse-osmosis-4.jpg?width=500&#038;height=375&#038;name=proses-reverse-osmosis-4.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
