Oleh: Rahma Puri Handayani ( ibu rumah tangga)
Saat ini Kondisi ekonomi kelas menengah di Indonesia memasuki tengah tahun ini masih pontang-panting. Daya beli mereka masih lesu, dan cenderung habis untuk sekadar urusan sandang dan operasional harian. Narasi pemerintah yang menyebut perekonomian Indonesia terus melejit, seolah sama dengan menyebut kelas menengah kita macam menjadi bonsai. Terus tumbuh, namun tak mampu berkembang lebih dari itu.
Aris (31th) pemuda asal Kota Bandung merasa keadaan keuangannya terus megap-megap sejak pandemi Covid-19 mereda. Untuk menghidupi istri dan satu anak perempuannya, ia bahkan sudah berganti pekerjaan dua kali sejak 2021.
Ia mengatakan pengeluaran paling banyak masih untuk rumah tangga harian dan cicilan tempat tinggalnya. Belum lagi biaya pendidikan anak yang menyusul menjadi pengeluaran yang paling menguras kantongnya.
Senasib dengan Aris yaitu Helen (28), perempuan asal Kota Bekasi merasa sudah jarang sekali berbelanja ke mall atau sekadar menghabiskan uang berwisata ke tempat-tempat viral. Kondisi ini menurutnya mulai terasa dua tahun ke belakang, karena uang bulanannya cenderung tergerus untuk keperluan makan dan ongkos harian untuk bekerja. Pekerja swasta di bidang kreatif ini mengaku, untuk menabung saja kini nominalnya tak lagi konsisten, padahal ia sudah semakin selektif untuk berbelanja agar tidak memperparah kondisi keuangannya.
Sementara Caca (33), asal Jakarta Barat, merasa kondisi perekonomiannya relatif masih stabil. Justru perempuan yang bekerja di sektor finansial ini menilai usai Pandemi Covid-19, penghasilannya ada perbaikan. Kantornya sudah mulai mampu memberikan kenaikan gaji setelah perekonomian dirasa mulai stabil. Meskipun, Caca turut merasa untuk daya beli saat ini memang terjadi penurunan untuk hal-hal yang bersifat hiburan dan leisure.(Tirto.id)
Begitulah Potret kelas menengah Indonesia yang terus bertahan dengan kaki bergetar memang seyogianya tak dianggap remeh pemerintah, karena kelompok ini merupakan penyumbang perekonomian yang cukup besar, tetapi justru minim intervensi kebijakan sebagai jaring pengaman. Jika dibiarkan Kelas menengah ini akan berada di ambang kejatuhan. Tren penurunan kelas menengah dalam lima tahun ke belakang sebaiknya menjadi alarm bagi pemerintah untuk bertindak. Kelas menengah pekerja juga mengalami gencetan risiko PHK yang semakin tinggi. Ini yang membuat kelas menengah menahan konsumsinya hingga tengah tahun 2025. Mengapa hal ini bisa terjadi ?
Tekanan utama yang dialami kelas menengah itu datang dari meningkatnya biaya hidup yang tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan riil. Karena kelompok ini terjepit di antara dua kutub, terlalu “mampu” untuk menerima bantuan sosial, tetapi belum cukup kuat untuk naik kelas secara ekonomi.
Akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan yang berkualitas masih mahal. Sementara proteksi terhadap risiko ekonomi seperti kehilangan pekerjaan atau krisis kesehatan cenderung minim.Sayangnya, kebijakan pemerintah sejauh ini tidak cukup menyentuh dari kebutuhan spesifik kelompok kelas menengah.
Seperti misalnya, dari insentif Bantuan Subsidi Upah (BSU) yang sudah diluncurkan beberapa waktu lalu, yang hanya menjangkau sekitar 18% dari target penerima, yang justru sebagian di antaranya kelas menengah. Yusuf mengatakan untuk mencegah kelas menengah makin terpuruk, pemerintah perlu mengubah pendekatan. Dorongan mobilitas pendapatan bisa dilakukan dengan menciptakan lapangan kerja reguler dengan upah layak. Selanjutnya bantuan sosial yang lebih tematik perlu diarahkan secara lebih strategis ke kelas menengah.(Tirto.id)
Itulah segelintir masalah yang terjadi sampai menjelang indonesia merdeka diusia 80 tahun. Miris memang peringatan 80 tahun kemerdekaan RI diliputi dengan ironi. Ada banyak persoalan di berbagai bidang kehidupan. Di bidang ekonomi, banyak terjadi PHK terhadap pekerja pada berbagai sektor, seperti industri tekstil, teknologi, dll.
Akibatnya penghasilan masyarakat stagnan atau bahkan cenderung menurun, sedangkan pengeluaran makin besar karena harga-harga melambung tinggi serta banyaknya pungutan dari negara, akibatnya masyarakat terpaksa makan tabungan. Kondisi ini rawan menjatuhkan warga kelas menengah ke jurang kemiskinan. Persoalan lain yang juga terjadi adalah pembajakan potensi generasi untuk mengokohkan kapitalisme. Juga penanaman berbagai pemikiran rusak seperti deradikalisasi, islam moderat, dialog antar agama, dll, yang menjadikan umat jauh dari pemikiran Islam. Pemikiran kapitalisme itu juga menjajahan umat hari ini, sehingga tak bisa berpikir shahih.
Nampaklah bahwa sejatinya Indonesia meski sudah merdeka dari penjajahan fisik, sejatinya Indonesia masih terjajah secara hakiki. Kemerdekaan seharusnya tampak pada kesejahteraan rakyat, yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar tiap rakyat. Sehingga ketika rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, esensinya Indonesia belum merdeka secara hakiki. Kemerdekaan juga nampak ketika umat Islam dapat berpikir sesuai dengan Islam dan kondisi ini merupakan akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat, tetapi malah melayani kepentingan kapitalis. Alhasil akibatnya kapitalis makin kaya, sedangkan rakyatnya makin miskin. Lantas apa yang harus kita lakukan agar semua masalah yang saat ini terjadi mampu teratasi dengan baik?
Sudah saat nya kita ubah sistem saat ini dan kita terapkan dengan sistem Islam Kaffah. Mengapa? Karena penerapan sistem Islam kafah adalah kebutuhan dan solusi hakiki atas kondisi ini. Tak hanya itu Sistem Islam mampu menyejahterakan rakyat dengan mengelola kepemilikan umum dan mengalokasikan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat. Negara juga akan menjamin kesejahteraan rakyat dengan memenuhi kebutuhan pokok rakyat seperti: sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan. Negara juga akan melakukan industrialisasi sehingga membuka lapangan pekerjaan. Tidak hanya itu negara juga akan memberikan tanah bagi yang mau menghidupkannya. Dan bagi fakir miskin, negara memberikan santunan dari baitulmal. Sistem Islam kafah juga akan menjaga pemikiran umat islam tetap selaras aturan syariat, dan hidup dalam ketaatan kepada Allah.
Oleh sebab itu untuk meraih kemerdekaan hakiki, kita butuh aktivitas perubahan hakiki. Dan saat ini sudah ada geliat perubahan di tengah masyarakat, seperti fenomena One Piece, dll. Namun sayang nya belum menyentuh akar permasalahan, yaitu keberadaan sistem kapitalisme. Maka dari itu kita perlu perubahan hakiki yang dipimpin oleh jemaah dakwah Islam ideologis yang melakukan perubahan hakiki dari sistem kufur menuju Islam. Oleh sebab itu marilah kita umat Islam bergabung dan bersatu menjadi bagian dari jemaah dakwah Islam ideologis untuk mewujudkan perubahan hakiki dan menerapkan Sistem Islam Kaffah ditengah-tengah masyarakat.
Wallahu a’lam